Hierarki Pendidikan Kekang Kreativitas Siswa

Kreatifitas siswa terkekang
Sambutan pertama saya terima kasih kepada kalian yang sudah rela meluangkan waktunya untuk mebaca tulisan ini.

Kita ini Kreatif. Kenapa? Sadar atau tidak, dunia ini semakin rumit. Akan selalu muncul tantangan yang susah diprediksi dan penuh misteri. Jawabannya pun tak tertulis di buku pelajaran sekolah yang selama ini melulu dipelototin oleh para siswa.

Buang jauh-jauh saja hingga ke kutub jika kalian masih berpikiran bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang yang profesional atau seniman saja. Kreatif adalah hak semua orang dan tak mengenal etnis ataupun golongan darah sekalipun, yang kaya, miskin, tua, muda, entrepreneur, akuntan, tentara hingga pengangguran sekalipun memiliki hak untuk kreatif.

Jangan merasa bahwa kita tidak kreatif! sejatinya kreativitas sudah mengendap di setiap insan manusia di muka bumi ini.  Hanya saja banyak manusia yang malas untuk mengeluarkan kreativitasnya atau bahkan tidak tahu cara memanggil kreativitas yang sedang tidur di alam bawah sadar.

Sekolah Membunuh Kreativitas
Sir Ken Robinson yang aktif dikomite pemerintahan dan membidangi bidang kreatif, kultur, dan edukasi di Inggris mengungkapkan bahwa banyak sekali sistem sekolah yang sebenarnya membunuh kreativitas. Mengekak ruang gerak dan merampas hak siswa untuk berfikir produktif dan freedom. Makanya banyak yang masih terkekang dak tak bisa out of the box (keluar dari zona aman).

Hampir semua sistem pendidikan dimuka bumi ini memiliki hierarki yang sama. Tidak peduli itu di negara maju maupun berkembang. Hierarki paling atas adalah matematika dan bahasa, menyusul kemudian kemanusiaan, dan paling bawah adalah seni.

Bahkan, dipendidikan seni juga memiliki hierarki tersendiri, seni rupa dan musik berada distatus tertinggi setelah seni peran dan menari. Tidak ada satu pun sistem pendidikan diplanet ini mengajarkan menari setiap hari untuk anak-anak sebagaimana kita mengajarkan mereka matematika.

Matematika memang penting, tetapi menari juga tidak kalah penting, karena kita memiliki tubuh, bukan sekedar otak. Saat anak-anak tumbuh dewasa, sistem pendidikan kita mulai mengajarkan mereka secara progresif dari pinggang ke atas, dan kemudian hanya fokus pada kepala, itu pun kesatu sisi otak saja.

Sistem pendidikan publik ini muncul untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi. Idenya adalah murid yang paling berguna dan dibutuhkan dalam dunia kerja diurutan teratas. Mungkin saja kita diarahkan untuk menjauhi hal-hal yang kita sukai, dengan dasar bahwa natinya (menurut mereka) hal-hal yang kita sukai tersebut tidak berpotensi untuk memperoleh pekerjaan.

Seringkali kita mendengar “Jangan bermain musik, kamu tidak akan menjadi musisi” ; “Jangan mendalami seni, kamu tidak akan menjadi seniman” dan sebagainya.

Sistem pendidikan pubik diseluruh dunia merupakan proses yang berlarut-larut sebagai persiapan untuk masuk ke universitas. Akibatnya, banyak orang berbakat hebat, cemerlang, dan kreatif berpikir mereka tidak bisa apa-apa, karena hal-hal yang mereka lakukan dengan baik di sekolah tidak dihargai, atau bahkan dianggap buruk. dan hal ini tidak bisa kita biarkan begitu saja. Harus ada pihak oposisi yang berani melantangkan suara dan menggerakkan tekad untuk bergerak untuk merubah hedon yang sudah mendarah daging ini.

Tiba-tiba gelar menjadi tidak berharga, banyak anak-anak yang memiliki gelar tapi tidak punya pekerjaan, ini adalah proses inflasi akademis. Kita harus memikirkan kembali dengan radikal cara pandang kita terhadap kecerdasan dan pendidikan.

Kurang lebih demikian pernyataan Sir Ken Robinson, dan saya setuju dengan memikiran beliau tentang sistem pendidikan kita yang harus dibenahi. Terima kasih.



Penulis : Nurul Faizin
Editor : Muhammad Ibnu Idris
Hierarki Pendidikan Kekang Kreativitas Siswa Hierarki Pendidikan Kekang Kreativitas Siswa Reviewed by Muhammad Ibnu Idris on 10:13 Rating: 5

3 comments:

  1. kasihan juga ya siswa nggak bisa bebas berekspresi karena sistem pendidikan nya seperti itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mbak bro. Ya itulah fenomena saat ini. Semoga pemerintah bisa lebih peka dan peduli akan pendidikan Manusia bukan pendidikan Robot. :)

      Delete
  2. Banyak upaya yg sdh dirintis untuk melawan fenomena ini, di antaranya munculnya sekolah alam, homeschooling.. Tapi memang menjadi pe er pemerintahan yg baru utk dpt merumuskan sesuatu yg dpt diterapkan secara nasional.

    Dan bukan hanya revolusi pendidikan yg diperlukan, namun juga revolusi ketenagakerjaan dan yg paling sulit adalah; revolusi paradigma masyarakat (butuh peran kontinyu dari pers).

    ReplyDelete

- Berikan respon anda dengan memberikan komentar yang baik. Baca Disclaimer.
- Kotak komentar ini hanya dikhususkan bagi pengunjung yang memiliki akun Google (Gmail / Google Plus).
- Jika anda tidak memiliki akun Google, silahkan berkomentar via Facebook di bagian atas.

Powered by Blogger.