Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia masih sangat terasa, apalagi peringatan tersebut diselenggarakan serentak di seluruh seantero nusantara kemarin, Minggu (17/8/2014).
Kemerdekaan Indonesia ini tentunya tak bisa lepas dari peran para pendahulu, para pejuang dan para kesatria bangsa yang berupaya mati-matian memerdekakan negara dari tangan kolonial dan penjajah pada masa itu. Salah satunya adalah Mayjen Suhario Padmodiwiro atau yang akrab disapa Hario Kecik.
Dia adalah salah satu pejuang bangsa yang ikut dalam perobekan bendera belanda di puncak gedung hotel Yamato, Surabaya pada tanggal 18 September 1945. Ia bahkan dikabarkan mengalami luka-luka saat berusaha merobek bendera tersebut di atas gedung yang kini berubah nama menjadi Hotel Majapahit itu .Perjuangan yang sangat gigih yang dilakukan oleh Hario Kecik tampak tak seimbang dengan keadaanya saat ini.
Menurut informasi yang dirilis oleh Metrotvnews.com, sang jendral perobek bendera Belanda yakni Merah-Putih-Biru menjadi Bendera Indonesia yakni Merah-Putih saat ini tengah terbaring lemah tak berdaya.
Ia saat ini dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga di Bekasi Barat kamar nomor 522. Waluapun matanya terbuka, namun pejuang bangsa ini tak dapat lagi berkomunikasi dengan keluarganya. Bahkan di masa seperti itu, baik ia maupun keluarganya enggan untuk mengemis bantuan dari pemerintah.
Menurut pengakuan dari salah satu putra sang Jendral, bahwa sudah lama masa pemerintah bentukan Orde Baru yang tak suka dengan Hario. Bahkan sang ayah malah diasingkan sejak lama. Hal ini yang membuat alasan kenapa keluarga Hario Kecik tak ada yang berada di dalam tubuh pemerintah apalagi mengikuti jejak sang jendral.
"Tak mungkin bapak masukin anak-anaknya ke pemerintah," ujar Gerindro Hananto, anak kedua Hario kepada Metrotvnews.com, Minggu (17/8/2014).
Terbaring di Rumah Sakit karena penyakit komplikasi yang dideritanya, keluarga dari Jendral berusia 93 tahun itu memang memerlukan biaya yang sangat besar. Namun diakui keluarga bahwa mereka masih cukup mampu untuk membiayai pengobatan ayahnya itu.
"Biarlah pemerintah sadar sendiri, apa yang pernah Bapak saya lakukan untuk negeri ini," imbuhnya.
Irma Devita, penulis novel SANG PATRIOT bahkan sampai membuat surat terbuka kepada Sang Jendral yang saat ini tengah terbaring lemah tak berdaya di situs jejaring sosial Facebook. Dalam penggalan surat tersebut Irma ingin menyampaikan kepada para pembaca agar mengetahui kondisi Mayjen Suhario Padmodiworo tersebut.
"Saya mempostingkan kembali surat yang dikirimkan secara pribadi ini di dorong oleh rasa haru saya melihat Jendral tua dengan semangat yang terus berkobar itu sekarang tergolek lemah tak berdaya antara sadar dan tiada." tulis Irma di situs Facebook, Senin (18/8/2014).
Ia pun berdoa agar sang pejuang kemerdekaan Indonesia itu segera pulih dan bisa menceritakan berbagai kisah perjuangannya dulu melawan para kolonial belanda yang mencoba menguasai bumi pertiwi ini.
Hario Kecik adalah salah satu potret fakta nasib kelam para pejuang bangsa untuk membebaskan negara dari belenggu penjajah yang harus hidup sebatang kara dan di bawah garis kesejahteraan di Indonesia. Padalah nilai moral yang pernah disumbangkan untuk bangsa ini tak ternilai harganya, mereka rela ditembus peluru demi mempertahankan kedaulatan NKRI.
Hario Kecik, Sang Pejuang Negara Yang Terpinggirkan
Reviewed by Muhammad Ibnu Idris
on
16:41
Rating:
Reviewed by Muhammad Ibnu Idris
on
16:41
Rating:

No comments:
- Berikan respon anda dengan memberikan komentar yang baik. Baca Disclaimer.
- Kotak komentar ini hanya dikhususkan bagi pengunjung yang memiliki akun Google (Gmail / Google Plus).
- Jika anda tidak memiliki akun Google, silahkan berkomentar via Facebook di bagian atas.