Letjen Purn Kiki Syanarkih : Siasati Arus Informasi yang beredar di Masyarakat

Letjen Purn Kiki Syanarkih
Nemukabar.com - Pemberitaan di berbagai media saat ini sedang hangat membicarakan tentang pesta demokrasi capres-cawapres 2014. Beberapa berita seakan menayangkan betapa mengerikannya pertarungan antar capres. Mengapa, karena para simpatisan seakan terlalu memuja-muja kepada salah satu pasangan capres-cawapres tertentu, namun dibarengi dengan saling serang.

Lebih mengerikannya lagi, ada upaya saling ancam antar tim sukses tertentu sehingga seakan pesta demokrasi lima tahunan ini seakan menjadi agenda yang cukup mencekam. Membuka-buka dosa lama antar capres hingga upaya serangan SARA pun seakan tak terbendung.

Terlebih lagi pendidikan politik anarki semakin dipertontonkan antar kedua kubu. Akibatnya, masyarakat pun yang menjadi korbannya. Apakah sebegitu mengerikannya republik Indonesia saat ini?

Dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan di Gedung Joeang 1945 di Cikini, Letjen Purn Kiki Syanarkih menyampaikan bahwa saat ini adalah masa dimana peperangan bukan lagi dilakukan dengan cara angkat senjata dan melemparkan geranat ke lawan, melainkan dengan cara soft power. Beberapa senjatanya pun berupa ekonomi, budaya, sosial, dan cyber.

Terlebih lagi dunia teknologi informasi yang tengah mendominasi mampu mengubah paradigma seseorang dengan pemberitaan yang disajikan. Lebih mengerikan lagi ketika sebuah perusahaan pers telah terkontaminasi dengan kepentingan elit perusahaan yang berkecimpung dengan golongan tertentu atau di partai politik yang mendukung salah satu kandidat Capres-Cawapres. 

Komersialisasi frekuensi publik untuk kepentingan politik tetentu membuat persoalan baru. Dengan senjata seperti itu, maka targetnya jelas yakni persepsi dan pola fikir masyarakat. Salah kaprah dan salah urus pun mengakibatkan masyarakat akan sulit berfkir jernih. Ini juga terlihat jelas dengan berbagai komentar di beberapa situs jejaring sosial yang menyikapi bersoalan tentang antar pasangan Capres-cawpres. Mudah terprovokasi dan enggan berfikir secara matang.

Masih menurut Letjen purn Kiki, ia menjelaskan jika saat ini seharusnya masyarakat khususnya Mahasiswa dan Pemuda lebih bisa berfikir jernih, tidak mudak berkomentar tanpa menelusuri pemberitaan yang sebenarnya terlebih dahulu, sehingga problema pun semakin menggelinding seperti bola salju.

Mantan anggota militer itu juga menghimbau agar masyarakat bisa diberikan pendidikan caracter building atau pembangunan karakter secara dini. Termasuk pada anak-anak sehingga bisa lebih terarah dan tidak mudah melakukan tindakan yang tak seharusnya. 

"Saat ini pendidikan Caracter Building harus diterapkan secara benar. Beberapa pendidikan karakter ini dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, hingga lingkungan bermasyarakat." ujar Letjen purn Kiki, Selasa (24/6/2014).

Masih dalam persoalan pola dilema politik yang saat ini berjalan di tengah-tengah jadwal jelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 9 Juli 2014 nanti. Saling serang antar kedua kubu justru seakan diajarkan langsung oleh para elit politik khususnya para tim sukses Capres-Cawapres, bahkan saling adu dan lapor ke aparat berwajib tentang black campaign hingga negative campaign pun semakin begitu jelas perpecahan diantara anak bangsa.

Ini yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan kekuasaan. Salah satu tugas negara adalah menyeragamkan faham antar golongan sehingga dapat meminimalisir perpecahan antar kelompok di negara.

Perdamaian dan kesatuan berbangsa dan bernegara menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan sehingga polemik pun tak berlangsung lama. Saling menghargai dan menghormati perbedaan dengan bijak demi persatuan dan kerukunan antar sesama
Letjen Purn Kiki Syanarkih : Siasati Arus Informasi yang beredar di Masyarakat Letjen Purn Kiki Syanarkih : Siasati Arus Informasi yang beredar di Masyarakat Reviewed by Unknown on 21:06 Rating: 5

No comments:

- Berikan respon anda dengan memberikan komentar yang baik. Baca Disclaimer.
- Kotak komentar ini hanya dikhususkan bagi pengunjung yang memiliki akun Google (Gmail / Google Plus).
- Jika anda tidak memiliki akun Google, silahkan berkomentar via Facebook di bagian atas.

Powered by Blogger.