Berbagai situs jejaring sosial saat ini sudah merebak di kalangan masyarakat pengguna gadget. Beberapa media sosial tersebut diantaranya ada Facebook, Twitter, Google Plus, Path, Instagram dan lain sebagainya.
Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika berbagai kalangan usia memiliki akun di situs jejaring sosial, baik itu anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia pun punya akun di sana. Bahkan satu orang saja bisa memiliki lebih dari satu akun di sosial media yang sama dan rata-rata setiap orang memiliki akun di beberapa sosial media yang ada.
Perkembangan teknologi pun memang diklaim mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari berbagai aktifitas para penggunanya. Misalkan berinteraksi dengan teman-temannya yang berada di jangkauan jarak yang lebih jauh. Tanpa harus perlu bertemu setiap saat, mereka bisa saling berkomunikasi satu sama lainnya secara real time.
Namun sayangnya, keberadaan sosial media justru ada dampak tersendiri bagi para penggunanya. Salah satunya adalah kurangnya interaksi sosial di sekelilingnya. Banyak orang yang lebih memilih untuk berkutat dengan gadget saat berada di suatu lokasi dibandingkan dengan menjalin komunikasi dengan sekelilingnya.
Salah satu contohnya adalah saat jalan-jalan ke Mall atau tempat keramaian lainnya. Hampir setiap orang pasti memegang gadget, minimal hanya sekedar cari informasi atau update status di sosial media.
Kurangnya interaksi sosial inilah yang diklaim cukup mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup manusia sebagai mahkluk sosial. Meraka akan lebih peduli dengan berapa follower mereka di Twitter, berapa penggemar mereka di Facebook, Instagram atau yang lainnya dibandingkan dengan kondisi sekitar.
Kondisi ini bisa disebut dengan gangguan psikologis yang bernama Phantom Vibration Syndrom. Gangguan semacam ini dilihat melalui gejala seperti lebih seringnya seseorang untuk melihat apakah ada SMS atau Chat masuk di ponsel atau bahkan notifikasi dari situs jejaring sosial yang dimilikinya, meskipun sebenarnya tak ada notifikasi apapun di ponsel mereka.
Menurut keterangan dari situs Softpedia yang dirilis bulan September lalu menyampaikan bahwa ada sekitar 5 hingga 10 persen para pengguna internet ternyata telah terjangkit penyakit psikologis tersebut. Bahkan disebut-sebut, dampak yang ditimbulkan dari Phantom Vibration Syndrom lebih hebat dibandingkan dengan drug.
Bisa dirasakan sendiri, apakah Anda adalah salah satu dari penderita penyakit psikologis tersebut. Anda akan merasa tidak tahanan untuk tidak melihat notifikasi di sosial media, check status atau pesan inbox di jejaring sosial yang Anda ikuti.
Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika berbagai kalangan usia memiliki akun di situs jejaring sosial, baik itu anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia pun punya akun di sana. Bahkan satu orang saja bisa memiliki lebih dari satu akun di sosial media yang sama dan rata-rata setiap orang memiliki akun di beberapa sosial media yang ada.
Perkembangan teknologi pun memang diklaim mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari berbagai aktifitas para penggunanya. Misalkan berinteraksi dengan teman-temannya yang berada di jangkauan jarak yang lebih jauh. Tanpa harus perlu bertemu setiap saat, mereka bisa saling berkomunikasi satu sama lainnya secara real time.
Namun sayangnya, keberadaan sosial media justru ada dampak tersendiri bagi para penggunanya. Salah satunya adalah kurangnya interaksi sosial di sekelilingnya. Banyak orang yang lebih memilih untuk berkutat dengan gadget saat berada di suatu lokasi dibandingkan dengan menjalin komunikasi dengan sekelilingnya.
Salah satu contohnya adalah saat jalan-jalan ke Mall atau tempat keramaian lainnya. Hampir setiap orang pasti memegang gadget, minimal hanya sekedar cari informasi atau update status di sosial media.
Kurangnya interaksi sosial inilah yang diklaim cukup mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup manusia sebagai mahkluk sosial. Meraka akan lebih peduli dengan berapa follower mereka di Twitter, berapa penggemar mereka di Facebook, Instagram atau yang lainnya dibandingkan dengan kondisi sekitar.
Kondisi ini bisa disebut dengan gangguan psikologis yang bernama Phantom Vibration Syndrom. Gangguan semacam ini dilihat melalui gejala seperti lebih seringnya seseorang untuk melihat apakah ada SMS atau Chat masuk di ponsel atau bahkan notifikasi dari situs jejaring sosial yang dimilikinya, meskipun sebenarnya tak ada notifikasi apapun di ponsel mereka.
Menurut keterangan dari situs Softpedia yang dirilis bulan September lalu menyampaikan bahwa ada sekitar 5 hingga 10 persen para pengguna internet ternyata telah terjangkit penyakit psikologis tersebut. Bahkan disebut-sebut, dampak yang ditimbulkan dari Phantom Vibration Syndrom lebih hebat dibandingkan dengan drug.
Bisa dirasakan sendiri, apakah Anda adalah salah satu dari penderita penyakit psikologis tersebut. Anda akan merasa tidak tahanan untuk tidak melihat notifikasi di sosial media, check status atau pesan inbox di jejaring sosial yang Anda ikuti.
Candu Sosial Media Termasuk Penyakit Psikologis?
Reviewed by Muhammad Ibnu Idris
on
11:25
Rating:

No comments:
- Berikan respon anda dengan memberikan komentar yang baik. Baca Disclaimer.
- Kotak komentar ini hanya dikhususkan bagi pengunjung yang memiliki akun Google (Gmail / Google Plus).
- Jika anda tidak memiliki akun Google, silahkan berkomentar via Facebook di bagian atas.